Sunday, 10 January 2016

Lumbung Padi yang Kelaparan

Padi yang memiliki nama latin “Oryza Sativa” merupakan jenis tumbuhan bji-bijian. Padi menjadi primadona bagi masyarakat di Indonesia. Bagaimana tidak? Hampir seluruh masyarakat di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke menjadikan padi sebagai bahan makanan pokok mereka disamping sagu, jagung, dan singkong. Pengolahan tanaman ini dilakukan oleh petani. Bermula dari butiran padi kemudian diolah menjadi beras hingga akhirnya menjadi nasi sehingga bisa dikonsumsi masyarakat, termasuk kita. Nasi hasil olahan beras tadi kaya akan karbohidrat. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada nasi menjadi modal bagi tubul dalam melakukan aktivitas harian. Oleh karena itu, beras merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Namun akhir-akhir ini masyarakat, termasuk juga pembaca blog ini digemparkan dengan kenaikan harga bahan pokok beras. Kenaikan harga beras yang melonjak drastis tidak berbanding lurus dengan pendapatan masyarakat. Hal ini membuat masyarakat Indonesia menjerit. Mereka harus berpikir lebih untuk sekedar mencukupi kebutuhan harian. Perlu diluruskan bahwa kenaikan harga beras ini bukanlah keinginan pemerintah sebagai pemimpin negeri yang akhir-akhir ini di suarakan dimana-mana. Kita tahu bahwa keadaan cuaca sekarang tidak lagi dapat diprediksi secara tepat oleh BMKG. Keadaan cuaca yang tidak bersahabat memungkinkan kegagalan panen yang lebih besar bagi para petani kita. Indonesia negeri hijau subur yang seharusnya menjadi penghasil utama beras, akhir-akhir inipun tidak dapat diandalkan. Faktor kelangkaan beras di lapangan mengakibatkan lumbung padi kita kelaparan. Tidak heran apabila harga beras cenderung melonjak drastis. Kenaikan harga beras ini juga dipengaruhi oleh biaya pendistrbusian beras dari petani hingga sampai ditangan masyarakat melewati beberapa tahapan. Dimana dalam tahapan distribusi tersebut, tidak jarang ada oknum yang mengambil keuntungan lebih. Jadi, wajar buka harga beras melonjak naik?

Nah, pembaca sekalian sudah tahu bahwa kenaikan harga beras bukanlah kesalahan pemerintah yang selama ini menjadi bahan protes dimana-mana. Pembaca yang cerdas tentunya lebih memilih untuk menemukan solusi bijak demi kemakmuran bersama.

No comments:

Post a Comment