Padi
yang memiliki nama latin “Oryza Sativa”
merupakan jenis tumbuhan bji-bijian. Padi menjadi primadona bagi masyarakat di
Indonesia. Bagaimana tidak? Hampir seluruh masyarakat di Indonesia, dari Sabang
sampai Merauke menjadikan padi sebagai bahan makanan pokok mereka disamping
sagu, jagung, dan singkong. Pengolahan tanaman ini dilakukan oleh petani.
Bermula dari butiran padi kemudian diolah menjadi beras hingga akhirnya menjadi
nasi sehingga bisa dikonsumsi masyarakat, termasuk kita. Nasi hasil olahan
beras tadi kaya akan karbohidrat. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada nasi
menjadi modal bagi tubul dalam melakukan aktivitas harian. Oleh karena itu,
beras merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Namun
akhir-akhir ini masyarakat, termasuk juga pembaca blog ini digemparkan dengan
kenaikan harga bahan pokok beras. Kenaikan harga beras yang melonjak drastis
tidak berbanding lurus dengan pendapatan masyarakat. Hal ini membuat masyarakat
Indonesia menjerit. Mereka harus berpikir lebih untuk sekedar mencukupi
kebutuhan harian. Perlu diluruskan bahwa kenaikan harga beras ini bukanlah
keinginan pemerintah sebagai pemimpin negeri yang akhir-akhir ini di suarakan
dimana-mana. Kita tahu bahwa keadaan cuaca sekarang tidak lagi dapat diprediksi
secara tepat oleh BMKG. Keadaan cuaca yang tidak bersahabat memungkinkan
kegagalan panen yang lebih besar bagi para petani kita. Indonesia negeri hijau
subur yang seharusnya menjadi penghasil utama beras, akhir-akhir inipun tidak
dapat diandalkan. Faktor kelangkaan beras di lapangan mengakibatkan lumbung
padi kita kelaparan. Tidak heran apabila harga beras cenderung melonjak
drastis. Kenaikan harga beras ini juga dipengaruhi oleh biaya pendistrbusian
beras dari petani hingga sampai ditangan masyarakat melewati beberapa tahapan.
Dimana dalam tahapan distribusi tersebut, tidak jarang ada oknum yang mengambil
keuntungan lebih. Jadi, wajar buka harga beras melonjak naik?
Nah,
pembaca sekalian sudah tahu bahwa kenaikan harga beras bukanlah kesalahan
pemerintah yang selama ini menjadi bahan protes dimana-mana. Pembaca yang
cerdas tentunya lebih memilih untuk menemukan solusi bijak demi kemakmuran
bersama.
No comments:
Post a Comment